Yogyakarta, kota kenangan

Pulang ke kotamu, Ada setangkup haru dalam rindu, Masih seperti dulu, Tiap sudut menyapaku bersahabat, Penuh selaksa makna …..🎼🎧🎻🎸🎷🎹Yogyakarta by KLA Project

Setelah hampir beberapa tahun lalu berkunjung ke kota Yogyakarta, maka tahun ini saya berkesempatan datang lagi sebagai salah satu relawan komunitas Kelas Inspirasi Yogyakarta. Ya benar..saya terpilih menjadi salah satu relawan pengajar di kota Yogyakarta sebagai kota penyelenggara tahun 2016.

Saya memilih kota Yogya, selain sebagai uji coba menjadi relawan di luar daerah tempat tinggal juga sebagai tempat tujuan wisata. Seperti pepatah di buku bahasa Indonesia yang saya pelajari dulu di SD, Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui 😊

Sejak mendaftar sebagai calon relawan, saya berketetapan untuk langsung membeli tiket kereta api dan tidak menunggu pengumuman lolos atau tidaknya saya sebagai relawan pengajar. Nekat memang …. tapi karena waktu penyelenggaraannya bertepatan dengan hari libur panjang Tahun Baru Imlek, maka resiko itu harus saya ambil dibandingkan tidak mendapat tiket kereta karena habis πŸ˜…πŸ˜€

Mulailah dengan melihat jadwal kereta api secara online dan membandingkan harga tiket kereta. Syarat yang utama adalah tiket kereta murah alias ekonomi #perempuanhemat dan syarat lainnya bisa dikompromikan. Pembelian tiket kereta api untuk pergi 04 Feb 2016 dan pulang 07 Feb 2016 sesuai dengan tanggal yang sudah saya rencanakan  

Perjalanan panjang menempuh waktu 8.5 jam dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan dimulai setelah jam kantor usai πŸ˜‚πŸš‰

Cukup melelahkan, tapi itu adalah harga yang wajar karena memilih tidak mengambil jatah cuti terlalu lama dari kantor.

Jam 07.00 pagi hari berikutnya, sampai di Stasiun Lempuyangan dan akan dijemput oleh Pakle’ Wiji yang akan menjadi tempat menginap selama di Yogya. Lumayan bingung menentukan tempat bertemu karena patokan yang dipakai adalah arah mata angin …timur-barat-selatan-utara, bukan kanan atau kiri seperti yang biasa saya gunakan selama ini πŸ˜¬πŸ˜€  Untunglah saya tidak sampai harus menunggu lama.

Rencana hari pertama di Yogya, saya ingin melihat Candi Borobudur lagi !

Jadi setelah diantar melihat sekolah yang akan menjadi tempat mengajar besok, saya bergegas menaruh backpack dan melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur. Karena lokasi rumah pakle’ Wiji yang cukup jauh dari tujuan, maka saya harus transit 1x sewaktu menggunakan angkutan umum Trans Jogja menuju terminal Jombor. Kemudian dilanjutkan menggunakan bis kecil menuju terminal Borobudur dan berjalan kaki ke Candi Borobudur.

Hahaha…perjalanan kali ini cukup menyenangkan karena merasakan menjadi bagian dari masyarakat lokal Yogya dengan menggunakan angkutan umum bukan angkutan pribadi ataupun angkutan sewa seperti taxi 🚌🚢🏽

Candi Borobudur sudah didepan mata dan dengan membayar tiket masuk IDR 30K maka saya sudah bisa memulai perjalanan. 

Candi Borobudur adalah sebuah candi Budha yang didirikan oleh para penganut agama Budha Mahagaya sekitar tahun 800-an Masehi pada jaman pemerintahan Syailendra. Borobudur adalah candi terbesar di dunia. Terdiri atas enam teras yang berbentuk bujur sangkar dan terdapat 504 arca Budha. Para pengunjung masuk melalui sisi timur dengan berjalan melingkar  bangunan candi searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Dimulai dari Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud) dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).  

  

Sayangnya beberapa pengunjung tidak mematuhi larangan untuk bersandar atau menginjakan kaki di bagian stupa candi, walaupun sudah ada larangan tertulis

Puas berkeliling dan mengamati relief yang ada pada setiap undakan, saya pulang untuk menyimpan tenaga untuk kegiatan besok.

Hari kedua dimulai dengan diantar oleh pakle’ ke sekolah tempat saya akan mengajar sehari, SDN Karangsari Yogyakarta.

Sekolah ini berlokasi tepat di seberang Kebun Binatang Gembiraloka dan mempunyai siswa sebanyak 73 orang untuk kelas 1 sampai dengan kelas 6. Jumlah relawan pengajar 9 orang + relawan fotografer 2 orang + relawan videografer 1 orang + fasilitator 3 orang. Sesuai dengan diskusi yang sudah dilakukan sebelumnya, maka para pengajar mempunyai jadwal mengajar yang telah disepakati. Saya mendapat jadwal mengajar di kelas 5, 4 dan 6.

Suasana gembira, rasa sukacita serta kepuasan bathin adalah salah satu alasan saya selalu ingin menjadi bagian dari gerakan Kelas Inspirasi. Mungkin dampaknya tidak langsung terasa pada anak-anak, akan tetapi saya berdoa dan berharap agar di masa depan, mereka mempunyai semangat yang besar untuk meraih cita-cita sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Aamiin πŸ˜‡ 

Dilanjutkan dengan makan siang bersama di Rumah Makan gudeg Bu Tjitro sambil mengevaluasi kegiatan sebelumnya di SDN Karangsari.  

pict taken by mbak rumah makan πŸ“Έ

Di tengah-tengah makan siang, ada berita bahwa kepesertaan saya untuk wisata kota tua ke Kotagede disetujui. Hahahaha nasib baik sedang berpihak karena awalnya nama saya hanya dimasukan kedalam daftar peserta secara mendadak karena salah satu pesertanya mengenal saya.

Thanks for Alisa Gerald Gimon Kaliey 😘😊

Kunjungan wisata ini disebut dalam rangkaian Kotagede Heritage dan diselenggarakan di salah satu rumah tua yang bernama Ndalem Natan . Pemiliknya sekarang adalah Bapak Nasir dan berlokasi di Jalan Mondorakan No. 5 Kotagede Yogyakarta. 

  

Puas menikmati kunjungan wisata, saya pulang ke daerah Maguwo untuk beristirahat

Hari terakhir di Yogya rasanya berjalan cepat sekali. Dimulai dengan kegiatan hari selebrasi #KIY2016 di Kepatihan Yogyakarta, berkumpul bersama dengan para penggiat kelas inpirasi dan tak lupa foto-fotoooooooo πŸ˜‚πŸ“ΈπŸŽ‰πŸ’ƒπŸΏ

Dilanjutkan dengan mencari titipan beberapa barang untuk oleh-oleh di sekitar Malioboro serta Pasar Beringharjo, kemudian pulang kembali kerutinitas semula.

Rasa-rasanya, waktu berkunjung harus ditambah untuk menjelajahi sudut kota Yogyakarta yang lainnya. Belum sempat mengunjungi pasar tradisional, tempat ibadah (yang merupakan salah satu tempat favorit saya), museum serta kraton.

Mungkin, saya akan kembali lagi di waktu yang akan datang untuk mencicipi makanan asli kota Yogyakarta selain gudeg, pecel, kue kipo, wedang secang, dan bandrek.

 
Simpan kenanganmu, Yogyakarta, untuk saya !

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Yogyakarta, kota kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s