Bandung Selatan

Minggu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Bandung untuk mengunjungi si sulung yang sedang berada disana dalam rangka tugas kuliahnya.

Selama ini yang saya ketahui, Bandung adalah kota tempat melancong untuk wisata belanja karena di kota ini banyak terdapat toko-toko penjual pakaian sisa ekspor yang lebih dikenal sebagai Factory Outlet (FO).

Tapi ternyata daerah Bandung Selatan lebih menarik dibanding hal tersebut diatas 😉. Lokasi penempatan si sulung adalah daerah Rancabali dan sebelum berkunjung, yang pertama dilakukan adalah membaca serta mencari informasi bagaimana menuju tempat tersebut 😂😀

Perjalanan dimulai dengan menggunakan moda transportasi umum, bis. Berangkat dari Terminal Baranangsiang jam 05.45 dengan karcis seharga IDR.65K dan menempuh perjalanan selama 3,5jam menuju Terminal LeuwiPanjang, Bandung.

Dilanjutkan dengan mobil L300 menuju Terminal Ciwidey dengan ongkos IDR.12K selama kurang lebih 1jam. Mobil ini tidak akan melaju jika penumpang belum memenuhi seluruh tempat duduk. Lumayan sesak tetapi tetap bisa dinikmati 😁

Perjalanan kemudian masih diteruskan menggunakan mobil angkot kuning tujuan Situ Patenggang dengan membayar IDR.10K sampai tempat si sulung tinggal, daerah Ranca Bali. Sudah ditunggu di pinggir jalan agar tidak tersesat katanya 😳😏😂

Setelah meletakkan daypack, langsung menuju lokasi Kampung Cai Ranca Upas. Tempat ini yang populer dengan nama Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, dengan jarak sekitar 50 km / 90 menit dari pusat Kota Bandung. Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17°C – 20°C. Sekitar area hutan lindung diisi dengan beragam flora seperti pohon Huru, Hamirug, Jamuju, Kihujan, Kitambang, Kurai, Pasang dan Puspa. Sedangkan fauna terdiri dari beragam jenis burung, serta beberapa satwa jinak lainnya. Fasilitas lainnya bisa dilihat di laman Rancaupas.

gerbang Rancaupas

 

berkemah di pinggir danau kecil

 

hutan Rancaupas

Disana juga terdapat penangkaran rusa yang bisa kita beri makan wortel dan kegiatan ini sangat menyenangkan walaupun lokasi kandang rusa basah karena hujan gerimis sejak pagi hari.

Setelah lelah berkeliling di Rancaupas, petang hari baru saya kembali ke tempat si sulung menginap untuk persiapan esok pagi.

Hari ke-2, saya berkesempatan mengunjungi Kawah Putih dengan hanya diantar ke depan loket tiket saja. Harga tiket IDR. 20K dan harus mengunakan angkutan ontang-anting menuju ke Kawah Putih dengan membayar IDR. 15K. Perjalanan ke atas lumayan jauh dan jalan berkelok tajam sehingga diperlukan kehati-hatian pengemudi.

Kawah Putih adalah sebuah tempat wisata di Jawa Barat yang terletak di kawasan Ciwidey. Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna. Kawah ini berada pada ketinggian +2090 m dpl dibawah puncak/titik tertinggi Gunung Patuha. Hanya karena sejak pagi turun gerimis, maka kabut tebal serta bau belerang cukup menyengat sehingga saya harus menggunakan masker penutup hidung.

Dan kembali dijemput si sulung untuk melanjutkan ke tempat lain, Situ Patenggang.

Perjalanan menggunakan motor dengan melewati perkebunan teh menuju Situ Patenggang yang berasal dari bahasa Sunda, kata “situ” berarti danau dan “patengan” berarti saling mencari.

Menurut cerita, dahulu ada sepasang anak manusia yang saling mencintai, yaitu Dewi Rengganis dan Ki Santang. Namun, keduanya terpisah untuk waktu yang lama. Karena rasa cinta yang sangat mendalam, mereka saling mencari satu sama lain dan akhirnya bertemulah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Batu Cinta. Dewi Rengganis lalu meminta dibuatkan sebuah danau dan perahu agar mereka berdua dapat berlayar bersama. Hal ini dipenuhi oleh kekasihnya. Cerita masyarakat lokal menyebut perahu tersebut saat ini adalah pulau Asmara atau yang juga disebut sebagai Pulau Sasaka yang berbentuk hati. Diyakini, sepasang kekasih yang mengunjungi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara akan mendapatkan cinta sejati dan abadi sebagaimana yang terjadi pada Dewi Rengganis dan Ki Santang.

Selain bisa menikmati wisata alam dengan berjalan kaki, bisa juga memakai perahu untuk berkeliling Situ Patenggang dengan membayar sejumlah uang. Saya sendiri mencoba berjalan kaki menuju lokasi Glamping Lake Side untuk melihat panorama dari atas.


Sungguh menakjubkan 😍

Rasanya 2 hari tidak cukup, tetapi saya harus segera kembali. Kangen dengan si sulung sudah terobati dan memastikan bahwa dia sehat serta menikmati tugas kuliah lapangan adalah hal yang utama, ditambah bisa berwisata di daerah Bandung Selatan adalah bonus yang saya dapatkan di perjalanan ini.

Selamat tinggal Bandung Selatan, sampai jumpa di lain kesempatan ❤️😊

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s