Colombo

Good morning,

terbangun karena bunyi alarm dari gadget, mengumpulkan jiwa serta raga. Dengan takjub memandang dari jendela kamar hotel Mirage dan mengucap syukur kalau saya selamat sampai di LK tanpa kendala (walau nyaris tidak bisa berangkat dari KLIA2 ). Bergegas untuk menjumpai teman seperjalanan, JK yang akan tiba beberapa saat lagi.

JK adalah teman virtual saya yang telah berkawan dalam jangka waktu cukup lama. Dia akan transit perjalanan dari Qatar menuju kampung halamanya di Kerala. Dan sesuai dengan waktu yang telah disepakati, dia datang dan kami merencanakan untuk sarapan bersama sebelum memulai eksplorasi kota Colombo. Menu sarapan pagi terdiri makanan lokal LK dan beberapa makanan barat. Karena sudah terbiasa untuk mencoba masakan lokal jika bepergian, maka saya mencoba menu LK dan sungguh lezat walaupun rasa rempah-rempah cukup terasa.

lokasi sarapan pagi di hotel yang bersisian dengan pantai dan rel kereta api

Setelah selesai sarapan, kami merencanakan pergi ke Colombo dengan menggunakan taxi. Hahahaha jangan dibayangkan taxi seperti yang kita lihat di brosur kota besar. Yang dimaksud taxi disini adalah sejenis angkutan bajaj roda 3 dan menggunakan argo layaknya taxi. Pengemudi taxi ramah dan bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Kami diajak berkeliling kota Colombo, dimulai dengan menikmati pantai di Colombo, menikmati bangunan bersejarah yang menjadi ikon kota Colombo, melintasi pasar tempat para penjual dan pembeli berinteraksi, kuil sederhana di sudut jalan serta mencoba memasuki mall yang terkenal di Colombo.

Colombo
salah satu jalan raya Galle, Colombo
 

kuil kecil di sudut jalan
penamaan jalan dalam 3 bahasa

Kota Colombo termasuk bersih, jarang ditemukan tumpukan sampah dipinggir jalan ataupun debu beterbangan walaupun suhu udara cukup lumayan terik.Tidak ditemukan juga pengemis ataupun tukang parkir yang biasa saya temui seperti di negara saya.

Sore menjelang dan kembali ke hotel untuk bersiap-siap menghadiri jamuan makan malam atas undangan Ashraff di restaurant yang terkenal di Colombo, Upali’s by Nawaloka. Ashraff dan istri menjemput di lobby hotel jam 09.00 malam.

http://www.upalis.com/colombo
Restaurant ini sangat terkenal di Colombo, menyajikan masakan asli Sri Lanka dengan konsep modern. Saya mencicipi masakan yang dipilih oleh Ashraff dari mulai makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup sampai rasanya perut penuh. Cita rasa masakan Sri Lanka hampir mirip dengan masakan India yang penuh dengan cita rasa rempah yang saya sukai.

sambol
String hoppers
egg hoppers
wattalappan
Hampir tengah malam saya baru kembali dari makan malam yang menyenangkan, tidak ada interupsi oleh gadget ataupun membicarakan masalah pekerjaan. Sepenuhnya menikmati makan malam bersama dengan teman yang menjadi tuan rumah yang sangat baik dan ramah selama di Colombo. Thanks a lot Ashraff 😊❀

Keesokan pagi adalah hari terakhir di Colombo sebelum bertolak ke Kuala Lumpur. Dan masih ada 1 hari bersama Ashraff untuk mengunjungi pabrik pembuatan kancing. Karena rasanya menyenangkan untuk bisa menambah pengetahuan dalam bidang pekerjaan yang saya tekuni saat ini, maka tawaran dari Ashraff saya terima.

Pabrik cukup jauh lokasinya dari Colombo, dan saya sekaligus keluar dari hotel untuk langsung pergi ke bandara setelah selesai kunjungan dari pabrik kancing. Ashraff meminta saya untuk mampir ke kantornya untuk melihat bisnis yang dia kerjakan selama ini. Berlokasi di tengah kota, saya berkesempatan untuk masuk ke kantornya di M.Y. & Union dan berdiskusi dengan beberapa orang yang selama ini hanya saya kenal melalui surel. Perjalanan dilanjutkan menuju lokasi pabrik kancing di daerah Dekatana.

Sepanjang perjalanan banyak ditemui penjual kelapa gading untuk diminum. Saya sempat mencicipi dan sangat enak diminum di tengah cuaca yang cukup terik. Kebanyakan penjual kelapa adalalah ibu-ibu yang disebut oleh Amee oleh Ashraff, yang artinya adalah ibu. Sampai di lokasi pabrik kancing, saya diajak berkeliling dan diberikan penjelasan cara proses pembuatan kancing sejak dari pemesanan sampai pengiriman. Sangat menarik dan menambah wawasan pengetahuan.

Jam makan siang di pabrik kancing, lagi-lagi saya dijamu makanan Sri Lanka yang lezat. Dimulai dari nasi yang mirip nasi biryani, kari ayam, buah nanas dan semangka yang merupakan buah yang sering disajikan dalam tiap kesempatan sampai dengan teh susu yang amat sangat saya sukaiiiii…. Pasti berat badan akan bertambah setelah kembali dari Sri Lanka…πŸ˜‚πŸ˜

Setelah selesai, saya kembali ke Colombo dan bersiap-siap diantar ke bandara untuk terbang ke tujuan selanjutnya, Kuala Lumpur.

Terima kasih, Ashraff atas semua keramahtamahan selama saya berada di Sri Lanka. Seperti kata dia, seharusnya saya lebih lama tinggal disini agar bisa melihat Sri Lanka secara keseluruhan dan menikmati semua makanan lokal yang pasti akan membuat saya bertambah gendut 😁😘

Saya akan kembali suatu saat lagi ke Sri Lanka, janji saya dalam hati dalam pesawat menuju Kuala Lumpur….☺️

Colombo merupakan kota penuh kenangan untuk saya, itu sudah PASTI !

 

 

 

 

Advertisements

Bandung Selatan

Minggu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Bandung untuk mengunjungi si sulung yang sedang berada disana dalam rangka tugas kuliahnya.

Selama ini yang saya ketahui, Bandung adalah kota tempat melancong untuk wisata belanja karena di kota ini banyak terdapat toko-toko penjual pakaian sisa ekspor yang lebih dikenal sebagai Factory Outlet (FO).

Tapi ternyata daerah Bandung Selatan lebih menarik dibanding hal tersebut diatas πŸ˜‰. Lokasi penempatan si sulung adalah daerah Rancabali dan sebelum berkunjung, yang pertama dilakukan adalah membaca serta mencari informasi bagaimana menuju tempat tersebut πŸ˜‚πŸ˜€

Perjalanan dimulai dengan menggunakan moda transportasi umum, bis. Berangkat dari Terminal Baranangsiang jam 05.45 dengan karcis seharga IDR.65K dan menempuh perjalanan selama 3,5jam menuju Terminal LeuwiPanjang, Bandung.

Dilanjutkan dengan mobil L300 menuju Terminal Ciwidey dengan ongkos IDR.12K selama kurang lebih 1jam. Mobil ini tidak akan melaju jika penumpang belum memenuhi seluruh tempat duduk. Lumayan sesak tetapi tetap bisa dinikmati 😁

Perjalanan kemudian masih diteruskan menggunakan mobil angkot kuning tujuan Situ Patenggang dengan membayar IDR.10K sampai tempat si sulung tinggal, daerah Ranca Bali. Sudah ditunggu di pinggir jalan agar tidak tersesat katanya πŸ˜³πŸ˜πŸ˜‚

Setelah meletakkan daypack, langsung menuju lokasi Kampung Cai Ranca Upas. Tempat ini yang populer dengan nama Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, dengan jarak sekitar 50 km / 90 menit dari pusat Kota Bandung. Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17Β°C – 20Β°C. Sekitar area hutan lindung diisi dengan beragam flora seperti pohon Huru, Hamirug, Jamuju, Kihujan, Kitambang, Kurai, Pasang dan Puspa. Sedangkan fauna terdiri dari beragam jenis burung, serta beberapa satwa jinak lainnya. Fasilitas lainnya bisa dilihat di lamanΒ Rancaupas.

gerbang Rancaupas

 

berkemah di pinggir danau kecil

 

hutan Rancaupas

Disana juga terdapat penangkaran rusa yang bisa kita beri makan wortel dan kegiatan ini sangat menyenangkan walaupun lokasi kandang rusa basah karena hujan gerimis sejak pagi hari.

Setelah lelah berkeliling di Rancaupas, petang hari baru saya kembali ke tempat si sulung menginap untuk persiapan esok pagi.

Hari ke-2, saya berkesempatan mengunjungi Kawah Putih dengan hanya diantar ke depan loket tiket saja. Harga tiket IDR. 20K dan harus mengunakan angkutan ontang-anting menuju ke Kawah Putih dengan membayar IDR. 15K. Perjalanan ke atas lumayan jauh dan jalan berkelok tajam sehingga diperlukan kehati-hatian pengemudi.

Kawah Putih adalah sebuah tempat wisata di Jawa Barat yang terletak di kawasan Ciwidey. Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna. Kawah ini berada pada ketinggian +2090 m dpl dibawah puncak/titik tertinggi Gunung Patuha. Hanya karena sejak pagi turun gerimis, maka kabut tebal serta bau belerang cukup menyengat sehingga saya harus menggunakan masker penutup hidung.

Dan kembali dijemput si sulung untuk melanjutkan ke tempat lain, Situ Patenggang.

Perjalanan menggunakan motor dengan melewati perkebunan teh menuju Situ Patenggang yang berasal dari bahasa Sunda, kata β€œsitu” berarti danau dan β€œpatengan” berarti saling mencari.

Menurut cerita, dahulu ada sepasang anak manusia yang saling mencintai, yaitu Dewi Rengganis dan Ki Santang. Namun, keduanya terpisah untuk waktu yang lama. Karena rasa cinta yang sangat mendalam, mereka saling mencari satu sama lain dan akhirnya bertemulah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Batu Cinta. Dewi Rengganis lalu meminta dibuatkan sebuah danau dan perahu agar mereka berdua dapat berlayar bersama. Hal ini dipenuhi oleh kekasihnya. Cerita masyarakat lokal menyebut perahu tersebut saat ini adalah pulau Asmara atau yang juga disebut sebagai Pulau Sasaka yang berbentuk hati. Diyakini, sepasang kekasih yang mengunjungi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara akan mendapatkan cinta sejati dan abadi sebagaimana yang terjadi pada Dewi Rengganis dan Ki Santang.

Selain bisa menikmati wisata alam dengan berjalan kaki, bisa juga memakai perahu untuk berkeliling Situ Patenggang dengan membayar sejumlah uang. Saya sendiri mencoba berjalan kaki menuju lokasi Glamping Lake Side untuk melihat panorama dari atas.


Sungguh menakjubkan 😍

Rasanya 2 hari tidak cukup, tetapi saya harus segera kembali. Kangen dengan si sulung sudah terobati dan memastikan bahwa dia sehat serta menikmati tugas kuliah lapangan adalah hal yang utama, ditambah bisa berwisata di daerah Bandung Selatan adalah bonus yang saya dapatkan di perjalanan ini.

Selamat tinggal Bandung Selatan, sampai jumpa di lain kesempatan ❀️😊